College Life is Free Life

Jadi ceritanya saya punya seorang teman laki-laki bernama Joni (nama samaran). Dia adalah teman satu kampus saya di program S2 PPIM FEB UI, namun dia beda jurusan sama saya. Saya mengambil jurusan S2 Manajemen Pemasaran, sedangkan Joni mengambil jurusan S2 Manajemen Sumber Daya Manusia. Meskipun demikian, kami beberapa kali sekelas karena ada beberapa mata kuliah wajib yang sama-sama kita ambil.

Seiring waktu berjalan, semakin dekatlah kami dengan semester akhir. Nah disini lah si Joni mulai minta tolong sama saya untuk diajarkan cara menggunakan aplikasi pengolah data LISREL. Jadi si Joni ini emang suka cabutan anaknya, makanya dia belum ngerti cara pake LISREL karena sering bolos kelas metode pengolahan riset.

Untung saja saya gak bodoh-bodoh amat, hehe.. Saya pun berhasil menjadi pembimbing Joni dalam mengolah data thesisnya hingga dia lulus.
Setelah saya lulus dari S2 Alhamdulillah saya langsung dapat tawaran kerja dari teman SD saya menjadi seorang tenaga kerja kontrak di Kementerian Kemaritiman Republik Indonesia. Awalnya sih semuanya fine-fine saja disana, saya merasa betah karena kerjaannya gak susah dan saya juga sering diajakin pergi dinas, plus dikasih uang dinas juga hehe..

 

Nothing Good Last Forever

Namun seiring waktu berjalan, banyak hal yang mulai berubah. Saya semakin lama menjadi semakin jenuh! Saya mulai sering bertengkar dengan teman satu tim saya, selain itu saya juga mulai merasa depresi dan tidak fokus dalam bekerja. Saya pun sampai nekat menghampiri kantor lama saya tempat saya dulu magang dan merengek pada HRD nya agar saya bisa diterima untuk kembali bekerja disana!

Namun sungguh miris, ternyata HRD kantor lama saya mengatakan bahwa saya overqualify jika bekerja disana dan tidak ada lowongan yang cocok bagi saya di kantor tersebut karena saya merupakan lulusan S2. Tentu saja hal tersebut membuat hati saya sangat sedih dan putus asa, namun sebelum saya melangkahkan kaki dari kantor itu, HRD tersebut memberi saran kepada saya agar saya mengambil kursus digital marketing karena menurutnya itu adalah keahlian yang paling dicari pada saat ini.

Entah kenapa mendengar saran HRD tersebut, saya mendadak merasa bersemangat lagi dan punya harapan. Sepulang dari situ saya memiliki tekad yang kuat untuk resign dari kementerian dan fokus mengikuti kursus digital marketing untuk meng-upgrade skill saya. Setelah melakukan sejumlah riset, saya lalu memutuskan untuk mengambil kursus digital marketing di sebuah tempat kursus bernama Dumet School di daerah tebet.

 

Joni Strikes Back

Akhirnya saya memutuskan untuk resign dari kementerian dalam kondisi belum dapat kerja lagi (hanya modal nekat saja) dan satu-satunya kegiatan saya adalah belajar digital marketing di tempat kursus yang telah saya daftarkan untuk diri saya. Uniknya tempat kursus ini tidak memiliki batas waktu belajar sehingga saya agak santai dalam menjalani proses belajar disana.

Pada saat saya sedang menjalani kursus disana, tiba-tiba si Joni menghubungi saya, dia menawarkan lowongan kerja pada saya